Sabtu, 21 Juli 2012

rukyah dan perubahan sikap anak


Assalamu’alaikum Wr. Wb.
            Ustadz Massar yang terhormat, saya seorang ibu dari seorang putra semata wayang. Saya sendiri bekerja disalah satu perbankan swasta di Jakarta. Dari kecil karena kesibukan saya, anak kurang mendapat perhatian. Biasanya saya menitipkannya kepada perawat karena suami juga seorang yang sibuk dengan pekerjaannya.
            Karena tidak mendapatkan perhatian penuh, putra saya menjadi tidak terkontrol. Akibatnya sekarang terperangkap pergaulan bebas. Dulu pernah saya masukan ke pondok pesantren dan Alhamdulillah mengalami perubahan . Akan tetapi ketika kembali ke pergaulannya, sifatnya menjadi tidak jelas dan sangat nakal. Saya dan suami sudah putus asa dengan perbuatannya yang selalu mencemarkan nama baik keluarga. Tadinya saya mempunyai inisiatif untuk mengirimkannya kelembaga rehabilitasi, akan tetapi saya tidak tega, karena saya dan suami sangat menyayanginya. Mohon solusi Ustadz.

                                                                                                Ruqoyah, Tangerang
Wassalamu’alikum Wr. Wb.
            Ibu Ruqoyah yang terhormat, pada dasarnya seorang anak terlahir dalam keadaan suci. Mereka bagaikan lembaran kertas putih yang siap diisi dengan tulisan. Adapun yang bertanggung jawab penuh terhadap prilaku si anak adalah orang tua sebagaimana dalam hadits nabi “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang membuatnya Yahudi, Nasrani, atau Majusi” (HR. Bukhari).
            Hadits di atas mewakili seluruh perilaku anak, baik atau buruk. Karena putra ibu sudah terlanjur dalam kenakalan, hal tersebut bukan berarti tidak bisa disembuhkan atau diluruskan. Janganlah ibu dan suami berputus asa. Sebaliknya sebagai bentuk penyesalan Ibu dan suami harus serius dalam mengembalikan kembali putra ibu kejalan yang benar.
            Untuk memperbaiki mental seseorang memang membutuhkan waktu lama. Tergantung kepada perubahan yang terjadi. Apabila putra ibu sama sekali dari kecil tidak menerima pendidikan agama sehingga watak jahatnya timbul karena alamiah, maka terapi dilakukan sekaligus dengan pengisian ilmu keagamaan. Adapun apabila kenakalannya karena pergaulan sesaat atau ada perubahan dari baik menjadi jahat maka cukup dengan melakukan rukyah untuk mengembalikan kembali kepada sifat aslinya. Kedua cara penanggulangan tersebut telah biasa dilakukan di yayasan kami.
            Adapun membawanya ketempat rehabilitasi harus menjadi alternatif terakhir. Yang perlu dihindari adalah tekanan psikis yang lebih jauh dan beresiko, kemungkinan itu bisa terjadi apabila kesadaran tidak timbul dari keinginan dirinya. Menyadarkannya lewat ritual ibadah dan mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa lebih efisien dan mempunyai nilai bagi diri si anak.
            Sekedar untuk memotifasi ibu dan bapak bahwa sesungguhnya anak adalah karunia yang sangat berharga. Hanya anak kita yang soleh yang doanya dapat menjadi bekal kita dalam kehidupan setelah mati, maka alangkah bahagianya apabila kita mendapatkan anak yang sholeh dan patuh terhadap orang tua, semoga ibu dan bapak tidak putus asa dalam mendidik  putra ibu. Salam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar