Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Ustadz Massar yang
terhormat, saya seorang ibu dari seorang putra semata wayang. Saya sendiri
bekerja disalah satu perbankan swasta di Jakarta. Dari kecil karena kesibukan saya,
anak kurang mendapat perhatian. Biasanya saya menitipkannya kepada perawat karena suami juga seorang yang sibuk dengan pekerjaannya.
Karena tidak mendapatkan
perhatian penuh, putra saya menjadi tidak terkontrol. Akibatnya sekarang
terperangkap pergaulan bebas. Dulu pernah saya masukan ke pondok pesantren dan Alhamdulillah mengalami perubahan . Akan tetapi ketika kembali ke pergaulannya, sifatnya menjadi tidak
jelas dan sangat nakal. Saya dan suami sudah putus asa dengan perbuatannya yang
selalu mencemarkan nama baik keluarga. Tadinya saya mempunyai inisiatif untuk mengirimkannya
kelembaga rehabilitasi, akan tetapi saya tidak tega, karena saya dan suami sangat
menyayanginya. Mohon solusi Ustadz.
Ruqoyah,
Tangerang
Wassalamu’alikum Wr. Wb.
Ibu Ruqoyah yang
terhormat, pada dasarnya seorang anak terlahir dalam keadaan suci. Mereka
bagaikan lembaran kertas putih yang siap diisi dengan tulisan. Adapun yang
bertanggung jawab penuh terhadap prilaku si anak adalah orang tua sebagaimana
dalam hadits nabi “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang
tuanyalah yang membuatnya Yahudi, Nasrani, atau Majusi” (HR. Bukhari).
Hadits di atas mewakili
seluruh perilaku anak, baik atau buruk. Karena putra ibu sudah terlanjur dalam
kenakalan, hal tersebut bukan berarti tidak bisa disembuhkan atau diluruskan. Janganlah
ibu dan suami berputus asa. Sebaliknya sebagai bentuk penyesalan Ibu dan suami
harus serius dalam mengembalikan kembali putra ibu kejalan yang benar.
Untuk memperbaiki mental
seseorang memang membutuhkan waktu lama. Tergantung kepada perubahan yang
terjadi. Apabila putra ibu sama sekali dari kecil tidak menerima pendidikan
agama sehingga watak jahatnya timbul karena alamiah, maka terapi dilakukan
sekaligus dengan pengisian ilmu keagamaan. Adapun apabila kenakalannya karena
pergaulan sesaat atau ada perubahan dari baik menjadi jahat maka cukup dengan melakukan
rukyah untuk mengembalikan kembali kepada sifat aslinya. Kedua cara
penanggulangan tersebut telah biasa dilakukan di yayasan kami.
Adapun membawanya ketempat
rehabilitasi harus menjadi alternatif terakhir. Yang perlu dihindari adalah
tekanan psikis yang lebih jauh dan beresiko, kemungkinan itu bisa terjadi apabila
kesadaran tidak timbul dari keinginan dirinya. Menyadarkannya lewat ritual
ibadah dan mendekatkan diri kepada yang Maha Kuasa lebih efisien dan mempunyai nilai
bagi diri si anak.
Sekedar untuk memotifasi
ibu dan bapak bahwa sesungguhnya anak adalah karunia yang sangat berharga.
Hanya anak kita yang soleh yang doanya dapat menjadi bekal kita dalam kehidupan
setelah mati, maka alangkah bahagianya apabila kita mendapatkan anak yang
sholeh dan patuh terhadap orang tua, semoga ibu dan bapak tidak putus asa dalam
mendidik putra ibu. Salam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar