Assalamu’alaikum wr wb
Ustad Massar
yang saya hormati. Jauh sebelum menikah, saya menyukai seorang perempuan yang
merupakan teman sekantor. Saya benar-benar jatuh cinta padanya saat sehari
menjelang hari pernikahan saya. Awalnya, saya mengira perasaan ini hanya
sebatas rasa suka biasa saja. Tapi tenyata lebih dari itu. Hingga kini, saya
sering terbayang-bayang dan merindukannya. Setiap kali perasaan itu datang,
saya hanya bisa mencurahkan perasaan pada buku harian (diary).
Meskipun sudah
menikah hampir 7 bulan lamanya, saya masih belum bisa melupakannya. Saya
bingung! Sudah berbagai cara saya lakukan untuk menjauhi dan melupakannya. Tapi
rasa ini tak juga hilang. Untungnya, meskipun sekantor, saya dan dia jarang
bertemu karena dia di bagian marketing dan sering ke luar. Di sisi lain, saya
tak ingin mengkhianati istri saya. Apa yang harus saya lakukan Ustad?
Andhika
Febrian, Makassar
Wa’alaikumussalam wr wb
Saudara Andhika
yang baik, yang namanya sensasi dan perasaan berbunga-bunga memang bisa terasa
bagai sebuah kenyataan yang membius. Cinta memang tak kan selesai dibahas
sampai akhir zaman. Kalau perasaan itu Anda biarkan berlarut-larut dengan
kontinuitas sedemikian rupa, akan terjadi kekacauan fikiran, mental, dan tentunya
berdampak bagi rumah tangga yang baru Anda bina.
Saat Anda
memutuskan untuk menikahi gadis yang kini menjadi istri Anda, tentunya saat itu
Anda dalam kesadaran penuh, tanpa paksaan, dan dengan alasan fundamental. Oleh karena itu, komitmen dan kesetiaan Anda
yang terucap saat ijab kabul (akad nikah) itulah yang sepatutnya Anda
pertahankan. Anda adalah pria dewasa. Semakin Anda memanjakan perasaan dan
menikmati sensasi jatuh cinta, maka masalah ini tidak akan selesai dengan
benar.
Jika alasan
Anda jatuh cinta karena paras yang cantik, yakinlah, cantik itu relatif dan
berada pada level kualitas yang tak kan selesai jika diukur dengan indra
penglihatan. Anda bisa saja terjebak pada rasa suka sesaat yang tidak
benar-benar dilandasi cinta dan berujung pada kebosanan. Membina rumah tangga
yang harmonis akan lebih mudah terlaksana jika dilandasi spirit cinta yang
disandarkan pada kasih sayang dan nilai-nilai agama.
Oleh karena
itu, berlaku secara adil dan penuh tanggung jawab dengan mencurahkan perasaan
sepenuhnya pada istri Anda. Niatkan pernikahan itu sebagai ibadah untuk membina
keluarga sakinah, mawaddah wa rohmah dan melahirkan keturunan yang saleh
secara individu maupun sosial. Jika Anda masih sulit melawan perasaan Anda,
segera menghubungi kami untuk menjalani terapi Ruqyah Diri. Dengan
begitu, Anda akan mengerti bahwa cinta yang sebenarnya memiliki ialah jika
dipertemukan kembali antara pecinta dengan yang dicintai di akhirat nanti dalam
keadaan yang lebih baik, termasuk cinta kepada Allah, Nabi, dan sesama Mukmin.
Tentu saja, cinta tersebut karena Allah, bukan karena nafsu. Salam sukses.