Selasa, 10 Juli 2012

Buta Akibat Inkar Janji



            Sebagai bisnismen kelas nasional, eksistensi untuk mendapatkan keuntungan yang selalu bertambah menjadi mutlak harus dicapai. Tidak mengherankan banyak para pengusaha yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Tidak hanya dalam bisnis termasuk memanfaatkan kekuasaan politik sebagai sarana mengumpulkan keuntungan sebanyak-banyaknya.
            Syafi’i yang selama ini dekat dengan pemerintahan sangat mengetahui benar bagaimana berhubungan dengan penguasa. ”Pak mohon proyek ini bisa dilancarkan! untuk hitungannya bapak tinggal minta berapa” salah satu usaha Syafi’i dalam meloloskan usahanya membebaskan tanah di daerah Kalimantan.
            Dengan kemahiran melobi dan iming-iming keuntungan, Syafi’i selalu berhasil mengelabui targetnya. Sampai suatu saat syafi’i tidak bisa mengatasi permasalahan lewat penguasa, secara langsung harus melobi langsung penduduk adat yang tinggal di pedalaman kalimantan. ”Bapak kepala suku yang saya hormati, saya bermaksud membeli tanah disini untuk kepentingan bisnis, saya akan beli dengan harta tinggi.” bujuknya dengan menggunakan bahasa khas daerah kepada kepala suku. ”saya coba musyawarahkan terlebih dahulu dengan warga di sini” jawab kepala suku.
            Melihat iming- iming yang besar, warga setempat merelakan sebagian besar tanahnya dibeli. ”Setiap meter saya hargai satu juta, untuk pembayarannya saya akan mengangsur bayaran menjadi tiga kali” bujuk Syafi’i. ”Baiklah kami setuju” jawab mereka serempak. Karena warga setempat memiliki  tarap pendidikan yang sangat rendah, dengan mudah mereka menyetujui perjanjian tersebut.

Pembodohan Yang Berakibat Fatal
            Untuk angsuran yang pertama Syafi’i menepati janji, akan tetapi untuk angsuran selanjutnya tidak kunjung dibayar. Padahal gedung-gedung pabrik telah megah dan selesai dibangun.”Kita harus mengambil hak kita kembali” ajak kepala suku. Akan tetapi unjuk rasa yang dilakukan warga setempat harus berhadapan petugas keamanan yang menggunakan tangan besi untuk mengusir mereka.
            ”Ini sudah keterlaluan, kita harus memberi mereka pelajaran” ungkap kepala suku. Tidak beberapa lama setelah rencana dilaksanakan, syafi’i menemukan sebuah bungkusan di atas atap pintu rumah. Tanpa sengaja bungkusan tersebut jatuh tepat diatas kepala dan serbuknya mengenai matanya ”Auuukh, mataku” jeritnya. Tidak beberapa lama mata Syafi’i tidak bisa melihat. Ketika berobat, dokter tidak menemukan zat yang berbahaya dalam serbuk tersebut, kejadian tersebut sangatlah ganjil.
            Dalam prasangka bahwa ini adalah guna-guna, Syafi’i pergi ke tempat ustadz ahli rukyah asal Semarang. Tanpa ragu Syafi’i menceritakan seluruh kejadiannya dari awal sampai akhir. ”Pak Ustadz, saya seorang pengusaha sedang menjalankan bisnis di Kalimantan, tiba-tiba mata saya terkena serbuk dan mengalami kehilangn penglihatan sampai sekarang”. Akhirnya sang ustadz memutuskan untuk merukyah Syafi’i.
            Sebelum merukyah, sang ustadz menyarankan untuk memberikan hak-hak yang harus diterima penduduk di Kalimantan. Banyaknya pikiran, tanggung jawab serta banyaknya dosa akan berpengaruh terhadap suksesnya merukyah. Setelah beberapa kali dilakukan rukyah, akhirnya pengelihatan Syafi’i kembali pulih. Dalam proses pemulihan Syafi’i tersadarkan akan pentingnya selalu jujur dan menepati janji.
            Tidak sampai disana, Syafi’i mulai mempelajari berbisnis yang berlandaskan Islam. ”Tiada hal yang memberikan ketenangan batin kecuali dengan dengan sang pencipta” nasihatnya kepada sang istri yang ternyata salah satu gadis pedalaman yang disuntingnnya.


           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar