Sebagai bisnismen kelas nasional, eksistensi untuk
mendapatkan keuntungan yang selalu bertambah menjadi mutlak harus dicapai. Tidak mengherankan banyak para pengusaha
yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Tidak hanya dalam
bisnis termasuk memanfaatkan kekuasaan politik sebagai sarana mengumpulkan
keuntungan sebanyak-banyaknya.
Syafi’i yang selama ini
dekat dengan pemerintahan sangat mengetahui benar bagaimana berhubungan dengan
penguasa. ”Pak mohon proyek ini bisa dilancarkan! untuk hitungannya bapak
tinggal minta berapa” salah satu usaha Syafi’i dalam meloloskan usahanya
membebaskan tanah di daerah Kalimantan.
Dengan kemahiran melobi
dan iming-iming keuntungan, Syafi’i selalu berhasil mengelabui targetnya. Sampai
suatu saat syafi’i tidak bisa mengatasi permasalahan lewat penguasa, secara
langsung harus melobi langsung penduduk adat yang tinggal di pedalaman
kalimantan. ”Bapak kepala suku yang saya hormati, saya bermaksud membeli tanah
disini untuk kepentingan bisnis, saya akan beli dengan harta tinggi.” bujuknya
dengan menggunakan bahasa khas daerah kepada kepala suku. ”saya coba
musyawarahkan terlebih dahulu dengan warga di sini” jawab kepala suku.
Melihat iming- iming yang
besar, warga setempat merelakan sebagian besar tanahnya dibeli. ”Setiap meter
saya hargai satu juta, untuk pembayarannya saya akan mengangsur bayaran menjadi
tiga kali” bujuk Syafi’i. ”Baiklah kami setuju” jawab mereka serempak. Karena
warga setempat memiliki tarap pendidikan
yang sangat rendah, dengan mudah mereka menyetujui perjanjian tersebut.
Pembodohan Yang Berakibat Fatal
Untuk angsuran yang
pertama Syafi’i menepati janji, akan tetapi untuk angsuran selanjutnya tidak
kunjung dibayar. Padahal gedung-gedung pabrik telah megah dan selesai
dibangun.”Kita harus mengambil hak kita kembali” ajak kepala suku. Akan tetapi
unjuk rasa yang dilakukan warga setempat harus berhadapan petugas keamanan yang
menggunakan tangan besi untuk mengusir mereka.
”Ini sudah keterlaluan,
kita harus memberi mereka pelajaran” ungkap kepala suku. Tidak beberapa lama
setelah rencana dilaksanakan, syafi’i menemukan sebuah bungkusan di atas atap
pintu rumah. Tanpa sengaja bungkusan tersebut jatuh tepat diatas kepala dan
serbuknya mengenai matanya ”Auuukh, mataku” jeritnya. Tidak beberapa lama mata
Syafi’i tidak bisa melihat. Ketika berobat, dokter tidak menemukan zat yang
berbahaya dalam serbuk tersebut, kejadian tersebut sangatlah ganjil.
Dalam prasangka bahwa ini
adalah guna-guna, Syafi’i pergi ke tempat ustadz ahli rukyah asal Semarang.
Tanpa ragu Syafi’i menceritakan seluruh kejadiannya dari awal sampai akhir.
”Pak Ustadz, saya seorang pengusaha sedang menjalankan bisnis di Kalimantan,
tiba-tiba mata saya terkena serbuk dan mengalami kehilangn penglihatan sampai
sekarang”. Akhirnya sang ustadz memutuskan untuk merukyah Syafi’i.
Sebelum merukyah, sang
ustadz menyarankan untuk memberikan hak-hak yang harus diterima penduduk di
Kalimantan. Banyaknya pikiran, tanggung jawab serta banyaknya dosa akan
berpengaruh terhadap suksesnya merukyah. Setelah beberapa kali dilakukan rukyah,
akhirnya pengelihatan Syafi’i kembali pulih. Dalam proses pemulihan Syafi’i
tersadarkan akan pentingnya selalu jujur dan menepati janji.
Tidak sampai disana,
Syafi’i mulai mempelajari berbisnis yang berlandaskan Islam. ”Tiada hal yang
memberikan ketenangan batin kecuali dengan dengan sang pencipta” nasihatnya
kepada sang istri yang ternyata salah satu gadis pedalaman yang disuntingnnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar