Selasa, 27 Januari 2015

Konsultasi



Tanya :
Assalamu’alaikum wr wb
Ustad Massar yang terhormat, sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih karena ayah saya yang menderita gagal ginjal sudah sehat kembali.  Proses kesembuhan yang relatif cepat berkat pengobatan medis dan juga terapi ruqyah dari ustad. Kini ayah saya bisa kembali beraktifitas dan memantau bisnis SPBU dan restoran yang sudah berkembang pesat. Saya juga menyampaikan amanat dari Ayah untuk berinfak ke Yayasan Kasih Kita Nusantara sebesar Rp. 120 juta. Semoga silaturahim tetap terjaga dalam rangka saling tolong menolong dalam kebaikan.
Melalui rubrik ini saya ingin meminta pertimbangan Ustad. Saya saat ini menjadi Client Coordinator di sebuah perusahaan Public Relation. Sebetulnya, saya sangat menyukai profesi saya ini. Awalnya saya cukup shock karena inilah pekerjaan pertama saya setelah lulus kuliah. Namun lambat laun saya bisa beradaptasi meski ada sedikit ganjalan. Salah satunya adalah perilaku team leader yang kerap memberi deadline dalam waktu relatif singkat dan bersamaan. Masalah lainnya adalah komunikasi. Banyaknya klien yang saya pegang justru sering membuat saya lupa melakukan hal-hal lain. Suatu pekerjaan yang saya kira sudah dikerjakan oleh orang lain ternyata belum.
 Sering juga salah satu anggota tim meminta saya meng-handle pekerjaannya karena dia menganggap load pekerjaannya sudah cukup tinggi. Padahal, saya sendiri sudah overloaded yang akhirnya membuat saya jadi keteteran. Dampaknya, saya jadi kehilangan mood dan etos kerja lenyap. Bagaimana ini Ustad?
Khaira Firdausiyah, S.E, Bandung, melalui email.

Jawab:
Wa’alaikumussalam wr wb
Alhamdulillah, saya turut berbahagia dengan kemajuan yang dialami ayah Anda, baik kemajuan bisnis maupun kondisi kesehatan. Senantiasa bersyukur dengan beribadah dan berbagi kepada yang kurang mampu, maka Allah akan menambahkan nikmat Nya. Karena manusia hanya bisa berusaha dan berdo’a, sedangkan hasil adalah kehendak Allah.
Saudari Khaira yang baik, tantangan kerja yang Anda hadapi cukup besar. Pasalnya, sehari-hari Anda mengerjakan tugas dari atasan yang berbeda-beda. Selain kemampuan multi-tasking, jiwa leadership juga diperlukan agar berhasil dalam pekerjaan terutama saat berhubungan dengan bos. Untuk itu, Anda harus membuat aturan main.
Pertama, usahakan agar bobot tugas yang diberikan sesuai dengan kapasitas Anda. Pertimbangkan konsekuensinya terutama bila tugas itu diberikan mendadak. Kedua, Anda harus berani berkata “tidak” jika timing dan bobot kerja yang dilimpahkan tidak realistis. Ketiga, untuk masalah komunikasi, sebaiknya Anda mencatat tugas dan laporan dan menyimpan berkas-berkasnya sebagai bukti, terutama jika berhubungan dengan klien. Dengan begitu, kredibilitas Anda di mata klien tetap terjaga demi hubungan jangka panjang yang harmonis.
Selain itu, saat berhubungan dengan klien, buatlah tabel daftar tugas dan tenggat waktu yang harus ditepati oleh kedua pihak. Usahakan untuk tetap rendah hati dan menawarkan diri membantu rekan dalam proyek lain jika waktu Anda sedang longgar. Salam sukses.

Rabu, 21 Januari 2015

Apa Manfaat Ruqyah?



Tanya:
Assalamu’alaikum wr wb
Ustad Massar yang saya hormati, kesibukan saya saat ini menekuni bisnis kuliner. Saya membuka restoran Jepang dengan menu utama aneka sushi. Saya mendapat informasi dari teman yang juga berbisnis kuliner kalau resto nya sekarang sukses meraup keuntungan berlipat setelah dilakukan Ruqyah. Setahu saya, ruqyah itu untuk manusia, bukan untuk tempat.
Selanjutnya, saya juga melebarkan sayap dengan menjajal investasi di dunia pendidikan. Untuk masalah finansial, saya bekerjasama dengan bank. Nantinya, akan saya jadikan semacam Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) tapi lebih cenderung bernuansa ekonomi dan perbankan syari’ah. Alhamdulillah, lokasi juga sudah saya dapatkan. Nah, lewat rubrik ini, saya ingin agar resto saya dilakukan ruqyah, nanti kalau memang berhasil, saya juga ingin agar lokasi bangunan kampus yang hendak saya dirikan nanti diruqyah. Terima kasih sebelumnya Ustad.
Wassalamu’alaikum wr wb
Harun Rasyid, Bandung, Jawa Barat

Jawab: 
Wa’alaikumussalam wr wb
Saudara Harun Rasyid yang berbahagia, saya sudah sering menyampaikan kepada klien, tamu, dan juga pembaca yang bertanya mengenai ruqyah. Ada persepsi di kalangan masyarakat awam bahwa terapi ruqyah adalah terapi untuk gangguan atau kesurupan jin atau hal-hal yang bersifat gaib. Kesalahan persepsi tersebut boleh jadi karena sering diadakan ruqyah masal untuk mengusir jin yang ada di dalam diri manusia.
Jarang dibahas penggunaan ruqyah untuk penyembuhan lebih luas dan ilmiah. Pembahasannya biasanya lebih bersifat fiqhiyyah dari pada ilmiah. Paling-paling peruqyah hanya menjelaskan masalah ruqyah syar’iyyah dan ruqyah syirkiyyah dan kurang pembahasan secara ilmiah. Padahal, terapi ruqyah merupakan bagian integral dari kedokteran holistik yang sekarang dikembangkan di dunia kedokteran. Secara medis metode ruqyah dalam arti membacakan ayat-ayat atau doa-doa yang terdapat di dalam Al Qur’an maupun As Sunnah, sudah dapat diterima keefektifannya dalam terapi gangguan jiwa fisik maupun psikis.
Ruqyah ini mengandung unsur tawassul kepada Allah melalui kesempurnaan rububiyah dan rahmat-Nya yang memberi kesembuhan. Karena memang Allah satu-satunya yang dapat memberikan kesembuhan. Sesungguhnya kesembuhan itu berasal dari-Nya. Oleh karena itu ruqyah ini sudah mengandung tawassul kepada Allah melalui tauhid, ihsan dan keyakinan terhadap Rububiyah Allah. Nah, di majelis kami, ruqyah yang merupakan do’a ini coba kami implementasikan tidak hanya terbatas pada manusia tapi juga tempat yang di dalamnya ada unsur-unsur, hawa maupun energi negatif. Jin jahat itu makhluk yang juga simbol sesuatu yang tidak baik (jahat) yang harus dieliminasi baik dari pikiran, perasaan, hati manusia maupun secara geografis adalah tempat tertentu.
Jika suatu tempat sudah memiliki energi atau aura positif, maka tempat tersebut akan memiliki daya tarik, terbentuk comfort zone sehingga manusia yang ada di dalamnya merasa tenang, rileks dan nyaman. Tentu saja sekali lagi saya tekankan, ruqyah adalah bagian dari ikhtiar batin (do’a), sedangkan ikhtiar dzohir nya adalah Anda melakukan upaya manajemen yang baik terhadap bisnis Anda berdasarkan teori-teori bisnis yang ada. Silahkan menghubungi kami agar permintaan Anda bisa segera terlaksana demi kepuasan dan kesuksesan Anda. Salam.


Senin, 19 Januari 2015

Dihantui Bayang-bayang Masa lalu



Konsultasi
Tanya:
Assalamu’alaikum Wr Wb.
Ustadz Massar yang terhormat, saya seorang kontraktor. Bisnis yang saya geluti saat ini merupakan warisan orang tua. Jadi saya tidak mempunyai prestasi atau kemampuan yang mumpuni dalam bidang tersebut karena masa lalu saya yang kelam.
Permasalahan saya sekarang, semakin saya berusaha melupakan masa lalu, semakin bayangan-bayangan itu muncul dan membebani saya dalam berkeluarga maupun dalam meniti karir dalam berbisnis. Saya merasa bahwa diri saya kotor, sehingga apa yang saya lakukan tidak memberikan sebuah kebarokahan atau sebaliknya menjadi bencana bagi keluarga saya. Mohon solusi ustadz.
                        Andrian Susilo, Jakarta
Jawab:
Wa’alaikumusalam Wr Wb.
Bapak Andrian yang baik, terkait dengan perbuatan yang telah bapak lakukan di masa lampau maka yakinlah pada janji Allah dalam al Quran “Katakanlah: “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53) dan dalam hadist Rasul “Jika kalian melakukan kesalahan-kesalahan (dosa) hingga kesalahan kalian itu sampai ke langit, kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah SWT akan memberikan taubat kepada kalian.” (Hadist diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abi Hurairah).
Dari ketentuan ayat al Quran dan hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa apabila bapak bertaubat secara sungguh-sungguh (taubatan nashuha) maka segala dosa bapak akan diampuni. Oleh karenanya tidak ada alasan bagi bapak berputus asa dari rahmat Allah untuk mendapatkan kebarokahan. Meskipun telah ada janji Allah untuk mengampuni, tentu bukan berarti bapak melupakan kewajiban terhadap sesama.
Oleh karenanya, usaha taubat sendiri dapat dilakukan dengan mulai meminta maaf kepada orang-orang yang telah bapak sakiti, selanjutnya bapak bisa membersihkan harta dengan cara beramal (zakat, infaq dan shadaqoh). Sedangkan untuk diri bapak, sebagai usaha menjernihkan hati, menguatkan iman dan membentengi mental, maka dapat dilaksanakan rukyah diri. Usaha terakhir ini sebagai usaha meminta perotolongan Allah supaya diri kita bersih sehingga dapat melupakan masa lalu yang nantinya taubat bapak menjadi tanpa hambatan. Salam.   

Jumat, 16 Januari 2015

Solusi Depresi Gagal UNAS



 Tanya:
Assalamu’alaikum Wr Wb.
            Ustadz massar yang terhormat, saya seorang ibu rumah tangga sedang suami adalah seorang pengusaha coklat. Pada kesempatan kali ini kami ingin memohon solusi untuk anak perempuan kami yang baru saja selesai mengikuti UNAS SMA dan dinyatakan tidak lulus, dia menjadi stress,depresi dan terus mengurung diri dikamar. Beruntung dia tidak melakukan hal-hal yang dilarang, sepertinya putri sulung kami telah kehilangan gairah dan semangat untuk melakukan aktifitas. Padahal dia telah berencana untuk melanjutkan kuliah di Eropa.  
Berbagai solusi telah kami lakukan, termasuk meminta teman-temannya untuk menghibur dan memberinya semangat. Diluar dugaan putri saya justru marah kepada kami karena dia merasa malu dan minder bertemu teman-temannya.  saya melihat penyesalan yang mendalam pada dirinya. Mohon solusinya ustadz.
Ayu, Jawa Timur
Jawab:
Wa’alaikumussalam Wr Wb.
            Ibu yang baik, masa SMA memang masa dimana remaja menjadi sangat sensitif, khususnya perempuan yang dalam masa-masa transisi menuju kedewasaan. Tidak hanya karena adanya perubahan fisik, lebih dari itu emosinya juga sedang dalam keadaan labil. Oleh karena itu, mohon ibu bersabar dalam membimbing putri ibu.
            Perlahan tapi pasti, ajaklah putri ibu untuk dapat menerima kenyataan. Berilah pengertian bahwa masa depan masih panjang sehingga masih banyak yang dapat dilakukan untuk meraihnya. Janganlah putus asa, karena belum tentu anak-anak yang lulus saat ini menjadi lebih sukses dari dirinya di masa yang akan datang. Rahmat Allah Swt selalu bersama orang-orang yang bersyukur dan tidak mudah putus asa sebagaimana firman Allah Swt “Wala tai asu mirraukhillah….. (jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah),” surat Yusuf:87. Apabila ibu kesulitan untuk menasehatinya, mintalah pihak-pihak yang dapat memberikan nasihat dan disegani oleh putri ibu.
            Untuk saat ini, terdapat banyak solusi bagi anak-anak yang tidak lulus dalam UNAS, diantaranya mengejar paket. Dengan memiliki status yang sama untuk masuk perguruan tinggi secara substansi tidak ada masalah. Sehingga apabila masih merasa minder karena tidak bersama-sama teman-teman yang lulus dalam UNAS, maka yakinkan putri ibu bahwa pada saatnya setiap orang akan berjalan sendiri-sendiri, sehingga diharapkan tidak minder dan harus percaya diri. Lebih dari itu, UNAS bukanlah satu-satunya ukuran menentukan kualitas seseorang.
Sebagai upaya penguatan mental, ibu bisa mengajaknya memperbanyak istighfar, dzikir dan berserah kepada Allah Swt. Selain itu ruqyah diri juga dapat menjadi wasilah bagi putri ibu, agar diberikan kesadaran dan juga memiliki mental yang baik. Disamping mencari usaha-usaha untuk putri tercinta, alangkah bijaknya apabila ibu beserta keluarga juga terus berdoa untuk kebaikan putri ibu. Salam.

Sabtu, 10 Januari 2015

Akibat Dosa di Masa Lalu

Tanya:
Assalamu’alaikum wr wb
Ustad Massar yang terhormat, saya memiliki dua orang anak, yang pertama laki-laki dan yang kedua perempuan. Adapun yang menjadi permasalahan adalah anak kedua yang kini rumah tangganya di ambang kehancuran. Sebelum menikah, anak kedua saya ini sudah hamil dulu. Jadi saat usia kandungan menginjak dua bulan, baru menikah. Semenjak masih pacaran, saya sudah tidak menyetujui hubungan mereka (anak saya dan suaminya sekarang). Maklum, calon suaminya seorang pengangguran dan hanya lulus SMA. Sedangkan anak saya seorang sarjana yang sudah bekerja.
Anak saya sudah sering saya nasehati tapi sering membantah dengan alasan sudah terlanjur cinta karena menjalin hubungan sejak kelas 2 SMA. Dengan berat hati, saya pun harus melihat kenyataan anak saya menikah. Saya merasa tidak ada yang bisa saya ajak musyawarah sejak suami saya meninggal. Anak saya yang pertama sudah sibuk dengan pekerjaan dan rumah tangganya sendiri. Kini, putri saya hendak menggugat cerai karena mendapati suaminya selingkuh dengan perempuan lain.
Ustad, sebagai seorang Ibu, sekaligus janda, saya merasa kesepian. Tidak ada suami dan anak-anak pun tidak seperti yang saya harapkan. Saudara-saudara saya juga berada di daerah yang jauh. Saya merasa gagal menjadi seorang ibu. Di usia yang semakin tua, ada semacam kekhawatiran jika saya harus menjalani hidup seorang diri sampai ajal menjemput. Apakah semua ini terjadi karena dosa-dosa saya di masa lalu? Apakah dosa-dosa yang telah saya lakukan juga berimbas pada nasib anak-anak saya? Terima kasih sebelumnya Ustad.
Wassalamu’alaikum wr wb   
Sri W, Sragen, Jawa Tengah
jawab:
Wa’alaikumussalam wr wb
Ibu Sri yang baik, menjadi seorang single parent memang tidak segampang membalik telapak tangan. Apa yang Anda alami sebenarnya juga mungkin dialami orang lain di belahan bumi yang lain. Namun yang perlu digarisbawahi adalah betapa kasih sayang dan perhatian orang tua itu berpengaruh terhadap karakter baik psikologis maupun kondisi emosional sang anak.  
Banyak orang tua yang menolak calon menantu karena alasan ekonomi. Bagaimanapun juga, kemapanan finansial bagi seorang laki-laki yang hendak berumah tangga memang penting. Namun itu bukanlah syarat mutlak yang menjadi tolok ukur kebahagiaan rumah tangga. Karena, dari empat kriteria calon pendamping hidup yang dianjurkan Nabi yakni tampang (cantik atau tampan), harta, keturunan dan agama, maka agama adalah prioritas. Di dalamnya mengandung unsur kesalehan individu sebagai modal untuk membangun keluarga bahagia yang kelak berkembang menjadi kesalehan sosial. Tiap individu sudah ada jatah rizki sendiri dari Allah asal mau berikhtiar dan berdo’a.
 Restu adalah do’a. Kekhawatiran berlebihan apalagi tidak merestui, akan berbahaya bagi kelangsungan rumah tangga sang anak. Apa yang sudah terjadi tidak perlu disesali. Yang terpenting saat ini adalah memperbaiki diri agar ke depan menjadi lebih baik. Setiap manusia tentu punya kesalahan dan dosa. Bertaubat adalah kuncinya. Anda dan anak Anda bisa datang ke tempat kami untuk terapi Ruqyah Diri. Akan kami bimbing agar do’a Anda kepada anak dan do’a anak kepada Anda bisa optimal demi kebahagiaan bersama di dunia dan akhirat. Salam.