Asalamualaikum
Pak Ustadz, aku seorang ibu rumah tangga. Aku menikah dengan suamiku karena
perjodohan. Meskipun dari segi materi sudah tercukupi bahkan lebih namun hati
ini selalu berontak. Aku sama sekali tidak bahagia dengan perkawinan ini karena
dibalik topengnya suamiku sering menyiksa dan sering menjadikan aku “terdakwa”
saat menghadapi masalah dalam rumah tangga.
Sebaliknya, dihadapan orang tuaku dia berubah menjadi sosok menantu yang
sempurna. Apa yang harus saya lakukan Pak Ustadz, saya sudah tidak tahan dengan
sandiwara ini? Wassalam.
Lidya. KM, Bogor
Lidya. KM, Bogor
Wa’alaikumussalam Wr.Wb.
Ibu Lidya yang dirahmati Allah, Perkawinan
akibat perjodohan memang dapat mengandung akibat positif maupun negative. Dari Sisi postif,
perjodohan yang tepat didasarkan pada bobot, bibit dan bebet dapat menjadi
pertimbangan orang tua serta landasan yang baik untuk masa depan putrinya. Lain
dari itu, perjodohan dengan hanya ta’aruf sebagai wasilah pernikahan
dapat menjauhkan diri dari perbuatan zina. Adapun sebaliknya, dengan diawali
perkenalan sangat memungkinkan untuk saling mengenal lebih dalam akan tetapi
bisa juga terjerumus
dalam jurang perzinahan.
Tidak terlepas dari penjelasan di
atas, yaitu terkait suami ibu yang mempunyai perangai yang tidak baik, maka
terlebih dahulu perlu penyelidikan sebab musababnya. Cobalah perdalami sikap
suami dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Lakukanlah komunikasi dari
hati-ke hati. Pendekatan tersebut menjadi sangat penting, karena Anda dan suami tidak mengenal
secara mendalam sebelum pernikahan. Namun, jika pendekatan-pendekatan telah
dilakukan dan suami masih tetap sama, selanjutnya mintalah bantuan pihak ketiga
sebagai mediator menyelesaikan permasalahan ibu seperti kedua orang tua.
Adapun permasalahan yang berkaitan
dengan keluarga, maka semaksimal mungkin dapat tertutup rapat apabila merupakan
rahasia yang tidak pantas di terangkan, sebagai contoh perihal kekerasan atau
hal lain yang justru akan membuka aib yang lebih besar.
Selanjutnya perbanyaklah doa untuk
kebaikan suami, tentunya dengan mengintropeksi diri kita sendiri, karena
pasangan yang baik untuk yang baik dan sebaliknya. Usaha batin lain yang lebih
praktis adalah dengan pendekatan Ruqah Diri, yaitu dengan memohon
pertolongan Alla swt agar suami ibu dibukakan hatinya dan diberi petunjuk serta
kelembutan hati. Setelah mendapatkan apa yang telah dicita-citakan yaitu
menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah, maka teruslah pertahankan
keadaan tersebut dengan memperbanyak ibadah dan beramal baik.
