Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Ustadz Massar yang terhormat, saya seorang
wanita karir begitu juga dengan suami saya, seorang bisnismen yang sangat sibuk
dengan pekerjaannya. Karena kesibukan kami berdua, kami sepakat menunda untuk mempunyai
momongan dengan mengikuti program KB. Akan tetapi tanpa kami duga, saya tetap
mengandung.
Setelah melahirkan kami
menjadi bingung untuk merawatnya, kami masih sibuk dengan pekerjaan
masing-masing. Akhirnya kami memutuskan untuk dirawat oleh nenek kami di
kampung. Disamping mengurangi beban kami, diharapkan dapat terhindar dari pergaulan
kota yang tercemar.
Setelah umur sepuluh tahun
kami ambil kembali untuk hidup bersama kami. Akan tetapi semenjak di kota,
pergaulannya menjadi tidak terkontrol dan menjadi nakal serta sering melawan
orang tua. Kami merasa putus asa untuk mengajarinya. Meskipun begitu, ketika
bertemu dengan neneknya putra kami menjadi penurut, kami tidak tahu apakah itu
pura-pura atau tidak. Kami berniat untuk mengembalikannya kepada nenek kami,
akan tetapi kami merasa berdosa karena selama ini belum pernah merawatnya.
Mohon solusi untuk kebaikan anak kami.
Narsih.
Semarang
Wassalamu’aliakum Wr. Wb.
Ibu Narsih yang terhormat, pada
dasarnya menjadi kebajiban orang tua untuk mendidik anaknya. Baik buruknya
seorang anak tergantung kepada kedua orang tuanya. Sebagaimana contoh dalam al
Quran surat Luqman. ”Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia)
mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan
bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu
termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”. (31:17).
Nasehat yang diberikan Luqman kepada
anaknya merupakan bentuk keharusan orang tua memberikan arahan bagi anak
mereka. Anak bagaikan lemaran putih yang siap diisi tulisan baik atau buruk.
Perlu diingat bahwa keterkaitan darah akan sangat mempengaruhi psikologis seorang
anak, khususnya seorang ibu.
Penekanan
lain sebagaimana dalam al Quran surat at Tahrim. ”Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah
manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang
tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan
selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.(66:6).
Sudah
menjadi kewajiban setiap orang untuk menjaga keluarganya masing-masing dari api
neraka. Dalam hal ini analogi yang paling tepat adalah menjaga keluarga dari
perangai yang tidak terpuji. Bagaimanapun caranya perbaikan mental bagi anak mutlak
dihatruskan semenjak dini. Bagaikan pohon yang masih kecil dapat dibentuk
seseuai dengan keinginan, sebaliknya ketika sudah besar akan sangat sulit.
Adapun
prihal putra ibu yang nakal dapat dilakukan bimbingan intensif. terkecuali
apabila hal tersebut tidak berhasil, maka ibu bisa melakukan ruqyah yang biasa
dilakukan di tempat kami. Pada dasarnya kenakalan seorang anak masih bisa
ditolelir kecuali sampai melakukan hal-hla yang dianggap kurang wajar seperti
memukul atau melawan orang tua.
Sekedar
motifasi untuk Ibu dan bapak, bahwa anak merupakan karunia Allah yang begitu
berharaga, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaganya. Alangkah
bahagianya apabila ada seorang yang memiliki anak sholeh yang akan mendoakan
kita setelah kita tiada. Perlu diketahui juga, bahwa anak kita bisa menjadi
rahmat atau menjadi fitnah. Maka untuk menjadikan putra kita sebagai rahmat
sudah sepatutnya sebagai orang tua selalu membimbingnya kepada jalan yang
benar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar