Assalamualaikum wr wb.
Ustadz
Massar, aku mempunyai anak yang introvert . dia lebih senang berdiam
diri dirumah atau mengurung diri dikamar. Pengalaman pahitnya saat keracunan
makanan dikantin sekolah telah mengubah sifatnya menjadi perfeksionis.
Tetapi menurut beberapa psikolog dia tergolong Obsesif Kompulsif. Tidak hanya keluarga yang merasa terganggu
dengan sikapnya tetapi orang-orang di sekitarnya juga merasakan hal yang sama.
Bahkan hal itu telah berdampak pada nilai studinya karena dia lebih sibuk
dengan kebiasaan anehnya untuk bersih-bersih dan merapikan diri dan isi kamarnya
dibandingkan belajar. Mohon saran dan solusinya Ustadz. Terima kasih.
Wa’alaikumussalam wr wb
Ibu yang baik, pada dasarnya obsesif kompulsif
merupakan penyakit psikologis yang gejalanya sebagaimana ibu sampaikan di atas,
yaitu menjadi pribadi yang ragu-ragu. Secara medis dapat disembuhkan menggunakan obat-obatan yang
berfungsi menekan impuls dan menghilangkan kecemasan, ditunjang terapi kognitif
behaviuor untuk melawan hal-hal yang di pikirkan dan belajar mengendalikan
tingkah laku.
Selain usaha medis, dipandang dari
sudut pandang teologis, maka keraguan-keraguan yang ada pada diri anak ibu
tidak lepas dari gangguan syetan. Sedangkan dari sudut pandang Islam, keraguan
haruslah dihilangkan dari diri setiap orang. Dalam hal ini Rasulullah sangat menyarankan
untuk menghindarinya. Untuk membentuk sebuah pribadi yang wara memang
sangat sulit, terlebih masih anak-anak dan belum faham tentang ajaran agama
secara mendalam. Oleh karena itu, Anda bisa menghubungi kami untuk terapi Ruqyah Diri sebagai media
memohon kepada Allah supaya dibersihkan dari
hawa dan energi negatif dalam tubuh putra ibu sehingga dapat segera disembuhkan.
Selanjutnya sebagai upaya mendekatkan
diri kepada Allah Swt, dan memohon pertolongan agar dihilangkan keraguan serta
ditetapkan iman, perbanyaklah membaca ayat Al Qur’an untuk putra ibu yang artinya “Dia-lah yang Awal (Allah telah
ada sebelum segala sesuatu ada), yang Akhir (disaat segala sesuatu telah
hancur, Allah masih tetap kekal), yang Zhahir (Dia-lah yang nyata, sebab banyak
bukti yang menyatakan adanya Allah), yang Bathin (tidak ada sesuatu yang bisa
menghalangi-Nya. Allah lebih dekat kepada hamba-Nya daripada mereka pada dirinya). Dia-lah
Yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu.” (QS. Al-Hadiid:3). Untuk informasi selanjutnya bisa
menghubungi kami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar