Assalamualaikum
Wr.Wb.
Pak Ustadz saya mempunyai saudara laki-laki yang sedang
depresi berat karena dirundung rasa bersalah dan penyesalan yang dalam. Saat
ibunya masih hidup, dia suka memaki dan menghardik ibunya. Mungkin hal itu
karena dia merupakan anak tunggal seorang pengusaha kaya dan selalu dimanja.
Selain itu pergaulan yang terlalu bebas dan salah membuatnya seakan menjadi
raja. Namun semua itu kini tiada lagi berarti buatnya karena dia merasa
dirinyalah penyebab kematian ibunya saat terjadi pertengkaran hebat antara
keduanya hingga menyebabkan penyakit jantung ibunya kambuh. Ustadz, berikanlah
arahan dan bimbingan untuk saudara saya agar bisa lebih sabar menghadapi kenyataan. Terimakasih.
Yusuf, Situbondo
Waalaikumussalam Wr.Wb.
Bapak Yusuf yang baik, sebelumnya kami ikut prihatin atas apa yang terjadi
dengan saudara laki-laki bapak. Oleh karenanya kami
persilahkan agar bapak segera membawanya ketempat kami. InsyaAllah setelah
terapy ruqyah diri, saudara anda akan berangsur sembuh. Akan lebih baik lagi jika pihak keluarga dan
juga teman-teman baiknya bisa ikut berpartisipasi dalam memulihkan semangatnya
bukan sebaliknya mengucilkan dan membencinya.
Sebelumnya perlu
bapak ketahui bahwa tidak selamanya sebuah penyesalan itu dapat berdampak
negatif. Sebaliknya
dapat menjadi hal yang positif apabila penyesalan tersebut menjadi kekuatan
untuk memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang lebih baik. Kaitannya dengan
permasalahan yang sedang dihadapi saudara bapak, maka berilah arahan
bahwa masa lalu tidak mungkin akan kembali, akan tetapi masa depanlah yang
harus dihadapi.
Perlu kiranya
saudara bapak juga mengetahui bahwa sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan
adalah dengan bertaubat. Sebagaimana firman Allah Swt dalam al Qur’an
"Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang
mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat setelah
itu, dan memperbaiki ( dirinya) sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nahl: 119)
Untuk kesalahan
yang dilakukan kepada orang tua yang telah meninggal, maka hanya
mendoakannyalah dan bersedekah untuknya yang menjadi langkah konkrit dalam cara
menebusnya. Karena sadaqoh dan doa seorang anak terhadap orang tua akan sampai
kepadanya sebagaimana dalam sebuah hadis dikatakan "Idza mata ibnu adam in
qatha'a 'amaluhu illa min tsalatsin: shadaqatin jariyatin, aw ilmin yuntafa'u
bihi wa waladin shalihin yad'u lahu.” bila seseorang mati maka terputuslah
pahala amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak
shaleh yang mendo'akannya" (al-Hadits).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar