Kamis, 05 Maret 2015

sabar menghadapi cobaan



Assalamualaikum Wr.Wb.
Pak Ustadz saya mempunyai saudara laki-laki yang sedang depresi berat karena dirundung rasa bersalah dan penyesalan yang dalam. Saat ibunya masih hidup, dia suka memaki dan menghardik ibunya. Mungkin hal itu karena dia merupakan anak tunggal seorang pengusaha kaya dan selalu dimanja. Selain itu pergaulan yang terlalu bebas dan salah membuatnya seakan menjadi raja. Namun semua itu kini tiada lagi berarti buatnya karena dia merasa dirinyalah penyebab kematian ibunya saat terjadi pertengkaran hebat antara keduanya hingga menyebabkan penyakit jantung ibunya kambuh. Ustadz, berikanlah arahan dan bimbingan untuk saudara saya agar bisa lebih sabar menghadapi  kenyataan. Terimakasih.
Yusuf, Situbondo

Waalaikumussalam Wr.Wb.
Bapak Yusuf yang baik, sebelumnya kami ikut prihatin atas apa yang terjadi dengan saudara laki-laki bapak. Oleh karenanya kami persilahkan agar bapak segera membawanya ketempat kami. InsyaAllah setelah terapy ruqyah diri, saudara anda akan berangsur sembuh.  Akan lebih baik lagi jika pihak keluarga dan juga teman-teman baiknya bisa ikut berpartisipasi dalam memulihkan semangatnya bukan sebaliknya mengucilkan dan membencinya.
Sebelumnya perlu bapak ketahui bahwa tidak selamanya sebuah penyesalan itu dapat berdampak negatif. Sebaliknya dapat menjadi hal yang positif apabila penyesalan tersebut menjadi kekuatan untuk memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang lebih baik. Kaitannya dengan permasalahan yang sedang dihadapi saudara bapak, maka berilah arahan bahwa masa lalu tidak mungkin akan kembali, akan tetapi masa depanlah yang harus dihadapi.
Perlu kiranya saudara bapak juga mengetahui bahwa sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah dengan bertaubat. Sebagaimana firman Allah Swt dalam al Qur’an "Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat setelah itu, dan memperbaiki ( dirinya) sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nahl: 119)
Untuk kesalahan yang dilakukan kepada orang tua yang telah meninggal, maka hanya mendoakannyalah dan bersedekah untuknya yang menjadi langkah konkrit dalam cara menebusnya. Karena sadaqoh dan doa seorang anak terhadap orang tua akan sampai kepadanya sebagaimana dalam sebuah hadis dikatakan "Idza mata ibnu adam in qatha'a 'amaluhu illa min tsalatsin: shadaqatin jariyatin, aw ilmin yuntafa'u bihi wa waladin shalihin yad'u lahu.” bila seseorang mati maka terputuslah pahala amalnya kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendo'akannya" (al-Hadits).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar