Sabtu, 10 Januari 2015

Akibat Dosa di Masa Lalu

Tanya:
Assalamu’alaikum wr wb
Ustad Massar yang terhormat, saya memiliki dua orang anak, yang pertama laki-laki dan yang kedua perempuan. Adapun yang menjadi permasalahan adalah anak kedua yang kini rumah tangganya di ambang kehancuran. Sebelum menikah, anak kedua saya ini sudah hamil dulu. Jadi saat usia kandungan menginjak dua bulan, baru menikah. Semenjak masih pacaran, saya sudah tidak menyetujui hubungan mereka (anak saya dan suaminya sekarang). Maklum, calon suaminya seorang pengangguran dan hanya lulus SMA. Sedangkan anak saya seorang sarjana yang sudah bekerja.
Anak saya sudah sering saya nasehati tapi sering membantah dengan alasan sudah terlanjur cinta karena menjalin hubungan sejak kelas 2 SMA. Dengan berat hati, saya pun harus melihat kenyataan anak saya menikah. Saya merasa tidak ada yang bisa saya ajak musyawarah sejak suami saya meninggal. Anak saya yang pertama sudah sibuk dengan pekerjaan dan rumah tangganya sendiri. Kini, putri saya hendak menggugat cerai karena mendapati suaminya selingkuh dengan perempuan lain.
Ustad, sebagai seorang Ibu, sekaligus janda, saya merasa kesepian. Tidak ada suami dan anak-anak pun tidak seperti yang saya harapkan. Saudara-saudara saya juga berada di daerah yang jauh. Saya merasa gagal menjadi seorang ibu. Di usia yang semakin tua, ada semacam kekhawatiran jika saya harus menjalani hidup seorang diri sampai ajal menjemput. Apakah semua ini terjadi karena dosa-dosa saya di masa lalu? Apakah dosa-dosa yang telah saya lakukan juga berimbas pada nasib anak-anak saya? Terima kasih sebelumnya Ustad.
Wassalamu’alaikum wr wb   
Sri W, Sragen, Jawa Tengah
jawab:
Wa’alaikumussalam wr wb
Ibu Sri yang baik, menjadi seorang single parent memang tidak segampang membalik telapak tangan. Apa yang Anda alami sebenarnya juga mungkin dialami orang lain di belahan bumi yang lain. Namun yang perlu digarisbawahi adalah betapa kasih sayang dan perhatian orang tua itu berpengaruh terhadap karakter baik psikologis maupun kondisi emosional sang anak.  
Banyak orang tua yang menolak calon menantu karena alasan ekonomi. Bagaimanapun juga, kemapanan finansial bagi seorang laki-laki yang hendak berumah tangga memang penting. Namun itu bukanlah syarat mutlak yang menjadi tolok ukur kebahagiaan rumah tangga. Karena, dari empat kriteria calon pendamping hidup yang dianjurkan Nabi yakni tampang (cantik atau tampan), harta, keturunan dan agama, maka agama adalah prioritas. Di dalamnya mengandung unsur kesalehan individu sebagai modal untuk membangun keluarga bahagia yang kelak berkembang menjadi kesalehan sosial. Tiap individu sudah ada jatah rizki sendiri dari Allah asal mau berikhtiar dan berdo’a.
 Restu adalah do’a. Kekhawatiran berlebihan apalagi tidak merestui, akan berbahaya bagi kelangsungan rumah tangga sang anak. Apa yang sudah terjadi tidak perlu disesali. Yang terpenting saat ini adalah memperbaiki diri agar ke depan menjadi lebih baik. Setiap manusia tentu punya kesalahan dan dosa. Bertaubat adalah kuncinya. Anda dan anak Anda bisa datang ke tempat kami untuk terapi Ruqyah Diri. Akan kami bimbing agar do’a Anda kepada anak dan do’a anak kepada Anda bisa optimal demi kebahagiaan bersama di dunia dan akhirat. Salam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar