Tanya:
Assalamu’alaikum wr wb
Ustad Massar
yang terhormat, saya memiliki dua orang anak, yang pertama laki-laki dan yang
kedua perempuan. Adapun yang menjadi permasalahan adalah anak kedua yang kini
rumah tangganya di ambang kehancuran. Sebelum menikah, anak kedua saya ini
sudah hamil dulu. Jadi saat usia kandungan menginjak dua bulan, baru menikah.
Semenjak masih pacaran, saya sudah tidak menyetujui hubungan mereka (anak saya
dan suaminya sekarang). Maklum, calon suaminya seorang pengangguran dan hanya
lulus SMA. Sedangkan anak saya seorang sarjana yang sudah bekerja.
Anak saya sudah
sering saya nasehati tapi sering membantah dengan alasan sudah terlanjur cinta
karena menjalin hubungan sejak kelas 2 SMA. Dengan berat hati, saya pun harus
melihat kenyataan anak saya menikah. Saya merasa tidak ada yang bisa saya ajak
musyawarah sejak suami saya meninggal. Anak saya yang pertama sudah sibuk
dengan pekerjaan dan rumah tangganya sendiri. Kini, putri saya hendak menggugat
cerai karena mendapati suaminya selingkuh dengan perempuan lain.
Ustad, sebagai
seorang Ibu, sekaligus janda, saya merasa kesepian. Tidak ada suami dan
anak-anak pun tidak seperti yang saya harapkan. Saudara-saudara saya juga
berada di daerah yang jauh. Saya merasa gagal menjadi seorang ibu. Di usia yang
semakin tua, ada semacam kekhawatiran jika saya harus menjalani hidup seorang
diri sampai ajal menjemput. Apakah semua ini terjadi karena dosa-dosa saya di
masa lalu? Apakah dosa-dosa yang telah saya lakukan juga berimbas pada nasib
anak-anak saya? Terima kasih sebelumnya Ustad.
Wassalamu’alaikum wr wb
Sri W, Sragen, Jawa Tengah
jawab:
Wa’alaikumussalam wr wb
Ibu Sri yang
baik, menjadi seorang single parent memang tidak segampang membalik
telapak tangan. Apa yang Anda alami sebenarnya juga mungkin dialami orang lain
di belahan bumi yang lain. Namun yang perlu digarisbawahi adalah betapa kasih
sayang dan perhatian orang tua itu berpengaruh terhadap karakter baik
psikologis maupun kondisi emosional sang anak.
Banyak orang
tua yang menolak calon menantu karena alasan ekonomi. Bagaimanapun juga,
kemapanan finansial bagi seorang laki-laki yang hendak berumah tangga memang
penting. Namun itu bukanlah syarat mutlak yang menjadi tolok ukur kebahagiaan
rumah tangga. Karena, dari empat kriteria calon pendamping hidup yang
dianjurkan Nabi yakni tampang (cantik atau tampan), harta, keturunan dan agama,
maka agama adalah prioritas. Di dalamnya mengandung unsur kesalehan individu
sebagai modal untuk membangun keluarga bahagia yang kelak berkembang menjadi
kesalehan sosial. Tiap individu sudah ada jatah rizki sendiri dari Allah asal
mau berikhtiar dan berdo’a.
Restu adalah do’a. Kekhawatiran berlebihan
apalagi tidak merestui, akan berbahaya bagi kelangsungan rumah tangga sang
anak. Apa yang sudah terjadi tidak perlu disesali. Yang terpenting saat ini
adalah memperbaiki diri agar ke depan menjadi lebih baik. Setiap manusia tentu
punya kesalahan dan dosa. Bertaubat adalah kuncinya. Anda dan anak Anda bisa
datang ke tempat kami untuk terapi Ruqyah Diri. Akan kami bimbing agar
do’a Anda kepada anak dan do’a anak kepada Anda bisa optimal demi kebahagiaan
bersama di dunia dan akhirat. Salam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar