Ustadz Massar yang terhormat, saya seorang pengusaha dalam bidang
kontraktor. Terus terang, bisnis
yang saya geluti saat ini merupakan warisan orang tua. Saya sendiri tidak
mempunyai prestasi atau kemampuan yang mumpuni dalam bidang usaha. Sebaliknya masa lalu saya
dipenuhi dengan prilaku yang tidak terpuji dan terjerumus dalam dunia hitam,
seperti mencandu narkoba, pergaulan bebas bahkan perjudian.
Sampai akhirnya saya dipaksa oleh orang tua
untuk menikah dan membina keluarga. Dari kehidupan baru tersebut saya mulai
berbenah, apalagi setelah saya mempunyai seorang putra, rasa sayang telah
mengalahkan keegoisan saya untuk melakukan kesenangan-kesenangan seperti
dulu.
Namun, semakin saya
berusaha melupakan masa lalu, semakin bayangan-bayangan itu muncul dan
membebani saya dalam berkeluarga maupun dalam meniti karier.
Saya merasa bahwa diri saya kotor, sehingga apa yang saya lakukan tidak
memberikan sebuah kebarokahan atau sebaliknya menjadi bencana bagi keluarga
saya. Mohon solusi ustadz.
Andrian
Susilo, Jakarta
Wassalamu’alaikum Wr Wb.
Bapak Andrian yang
baik, terkait dengan perbuatan yang telah bapak lakukan di masa lampau maka
yakinlah pada janji Allah dalam al Quran “Katakanlah: “Hai hamba-hambaKu
yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa
dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.
Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS.
Az-Zumar: 53) dan dalam hadist Rasul “Jika kalian melakukan
kesalahan-kesalahan (dosa) hingga kesalahan kalian itu sampai ke langit,
kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah SWT akan memberikan taubat kepada
kalian.” (Hadist diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abi Hurairah).
Dari ketentuan ayat
al Quran dan hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa apabila bapak bertaubat
secara sungguh-sungguh (taubatan nashuha) maka segala dosa bapak akan
diampuni. Oleh karenanya tidak ada alasan bagi bapak berputus asa dari rahmat
Allah untuk mendapatkan kebarokahan. Meskipun telah ada janji Allah untuk
mengampuni, tentu bukan berarti bapak melupakan kewajiban terhadap sesama.
Oleh karenanya,
usaha taubat sendiri dapat dilakukan dengan mulai meminta maaf kepada orang-orang
yang telah bapak sakiti, selanjutnya bapak bisa membersihkan harta dengan cara
beramal (zakat, infaq dan shadaqoh). Sedangkan untuk diri bapak, sebagai usaha menjernihkan
hati, menguatkan iman dan membentengi mental, maka dapat dilaksanakan rukyah
diri. Usaha terakhir ini sebagai usaha meminta perotolongan Allah suapaya diri
kita bersih sehingga dapat melupakan masa lalu yang nantinya taubat bapak
menjadi tanpa hambatan. Salam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar