Minggu, 28 Oktober 2012

Memenangkan hati anak


Assalamu’alaikum Wr Wb.
Ustadz Massar yang terhormat, sebelumnya saya ingin menyampaikan, bahwa hidup saya di masa lalu adalah serba kekurangan. Pada saat itu, saya tidak tahan dan  memutuskan meninggalkan 2 orang anak dan suami untuk menikahi orang lain, yaitu teman kuliah dulu yang telah mapan dan menjadi pengusaha sukses.
Penyesalan memang tidak datang di awal, karena perbuatan masa lalu akhirnya saya harus menerima akibatnya.  Sampai saat ini kedua anak tidak mengakui saya sebagai ibu kandungnya. Padahal  sebagai seorang ibu, saya sangat menyayangi mereka dan ingin memeluknya. Selanjutnya apa yang harus saya lakukan Ustadz? supaya kedua anak saya memaafkan dan mau menerima saya sebagai ibunya lagi walaupun kami hidup terpisah.
                                                                                                                                Marsinah, Surabaya
Wassalamu’alaikum Wr Wb.
Ibu Marsinah yang baik, Pada dasarnya, seorang ibu mempunyai hak yang lebih pantas dalam mengurus anak dari suami, apabila terjadi perceraian. Akan tetapi, kerana sudah merupakan keputusan ibu, maka yang lalu biarlah berlalu. Selanjutnya secercah penyesalan yang ibu rasakan saat ini merupakan sesuatu yang baik untuk terus diperjuangkan, karena hal tersebut termasuk upaya mengintrofeksi diri dan menebus kesalahan ibu di masa lalu.
Terkait permasalahan anak-anak yang telah kecewa, maka ibu harus mengetahui secara psikologis keadaan mereka. Telusurilah terlebih dahulu penyebab utama mereka tidak menerima ibu kembali. Apakah karena penyebab perpisahan yang telah diketahui oleh mereka, atau ada hasutan dari pihak lain termasuk suami atau saudara yang tidak menginginkan ibu dan anak-anak berdamai (rukun).
Setelah mengetahui permasalahan pokok, maka lakukanlah klarifikasi terhadap anak-anak dan mintalah maaf. Yakinkanlah, bahwa bagaimanapun mereka adalah darah daging, dan ibu sangat menyayangi mereka. Sebelum itu alangkah baiknya permasalahan ibu dan suami serta pihak lain yang terkait telah terselesaikan terlebih dahulu. Sehingga mempermudah rekonsiliasi.
Selanjutnya, sebagai seorang muslim, maka meminta pertolongan kepada Allah adalah sebuah keniscayaan. Terlebih yang ibu hadapi adalah permasalahan psikologis yang berkaitan dengan hati dan perasaan anak-anak. Maka meminta kepada dzat yang pembulak balikan hati (Allah Swt) menjadi suatu keharusan. Adapun usaha konkrit yang bisa ibu lakukan adalah dengan melaksanakan ruqyah diri bagi anak-anak ibu.    
Selain ruqyah diri, diharapkan ibu senantiasa berdoa untuk kebaikan anak-anak, yakinlah doa tersebut akan terkabul, sebagaimana dalam riwayat hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang yang dizholimi, doa orang yang bepergian (safar) dan doa baik orang tua pada anaknya.” (HR. Ibnu Majah). 
Akhirnya, semoga apa yang telah dilakukan ibu membuahkan hasil, untuk selanjutnya bisa menghubungi kami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar