Assalamu’alaikum Wr
Wb.
Ustadz Massar yang
terhormat, sebelumnya saya ingin
menyampaikan, bahwa hidup saya di masa lalu adalah serba kekurangan. Pada saat itu, saya tidak tahan dan memutuskan meninggalkan 2 orang anak
dan suami untuk menikahi orang lain,
yaitu teman kuliah dulu yang telah mapan dan menjadi
pengusaha sukses.
Penyesalan memang tidak datang di awal, karena perbuatan masa lalu
akhirnya saya harus menerima akibatnya. Sampai saat ini kedua anak tidak
mengakui saya sebagai ibu kandungnya. Padahal
sebagai seorang ibu, saya sangat menyayangi mereka dan ingin memeluknya. Selanjutnya apa yang
harus saya lakukan Ustadz? supaya kedua anak saya memaafkan dan mau menerima saya
sebagai ibunya lagi walaupun kami hidup terpisah.
Marsinah, Surabaya
Wassalamu’alaikum Wr Wb.
Ibu Marsinah yang baik, Pada dasarnya, seorang ibu mempunyai hak yang
lebih pantas dalam mengurus anak dari suami, apabila terjadi perceraian. Akan
tetapi, kerana sudah merupakan keputusan ibu, maka yang lalu biarlah berlalu. Selanjutnya
secercah penyesalan yang ibu rasakan saat ini merupakan sesuatu yang baik untuk
terus diperjuangkan, karena hal tersebut termasuk upaya mengintrofeksi diri dan
menebus kesalahan ibu di masa lalu.
Terkait permasalahan anak-anak yang telah kecewa, maka ibu harus
mengetahui secara psikologis keadaan mereka. Telusurilah terlebih dahulu
penyebab utama mereka tidak menerima ibu kembali. Apakah karena penyebab
perpisahan yang telah diketahui oleh mereka, atau ada hasutan dari pihak lain
termasuk suami atau saudara yang tidak menginginkan ibu dan anak-anak berdamai
(rukun).
Setelah mengetahui permasalahan pokok, maka lakukanlah klarifikasi
terhadap anak-anak dan mintalah maaf. Yakinkanlah, bahwa bagaimanapun mereka
adalah darah daging, dan ibu sangat menyayangi mereka. Sebelum itu alangkah
baiknya permasalahan ibu dan suami serta pihak lain yang terkait telah
terselesaikan terlebih dahulu. Sehingga mempermudah rekonsiliasi.
Selanjutnya, sebagai seorang muslim, maka meminta pertolongan kepada
Allah adalah sebuah keniscayaan. Terlebih yang ibu hadapi adalah permasalahan
psikologis yang berkaitan dengan hati dan perasaan anak-anak. Maka meminta kepada
dzat yang pembulak balikan hati (Allah Swt) menjadi suatu keharusan. Adapun usaha
konkrit yang bisa ibu lakukan adalah dengan melaksanakan ruqyah diri bagi
anak-anak ibu.
Selain ruqyah diri, diharapkan ibu senantiasa berdoa untuk kebaikan
anak-anak, yakinlah doa tersebut akan terkabul, sebagaimana dalam riwayat hadis
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, yang artinya “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi
yaitu doa orang yang dizholimi, doa orang yang bepergian (safar) dan doa baik
orang tua pada anaknya.” (HR. Ibnu Majah).
Akhirnya, semoga apa yang telah dilakukan ibu membuahkan hasil, untuk
selanjutnya bisa menghubungi kami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar