Jumat, 29 Agustus 2014

Menghadapi Suami Bermuka Dua




Asalamualaikum Pak Ustadz, aku seorang ibu rumah tangga. Aku menikah dengan suamiku karena perjodohan. Meskipun dari segi materi sudah tercukupi bahkan lebih namun hati ini selalu berontak. Aku sama sekali tidak bahagia dengan perkawinan ini karena dibalik topengnya suamiku sering menyiksa dan sering menjadikan aku “terdakwa” saat menghadapi masalah dalam rumah tangga.  Sebaliknya, dihadapan orang tuaku dia berubah menjadi sosok menantu yang sempurna. Apa yang harus saya lakukan Pak Ustadz, saya sudah tidak tahan dengan sandiwara ini? Wassalam.
  Lidya. KM, Bogor
                                                 
Wa’alaikumussalam Wr.Wb.
Ibu Lidya yang dirahmati Allah, Perkawinan akibat perjodohan memang dapat mengandung akibat positif maupun negative. Dari Sisi postif, perjodohan yang tepat didasarkan pada bobot, bibit dan bebet dapat menjadi pertimbangan orang tua serta landasan yang baik untuk masa depan putrinya. Lain dari itu, perjodohan dengan hanya ta’aruf sebagai wasilah pernikahan dapat menjauhkan diri dari perbuatan zina. Adapun sebaliknya, dengan diawali perkenalan sangat memungkinkan untuk saling mengenal lebih dalam akan tetapi bisa juga terjerumus dalam jurang perzinahan.
Tidak terlepas dari penjelasan di atas, yaitu terkait suami ibu yang mempunyai perangai yang tidak baik, maka terlebih dahulu perlu penyelidikan sebab musababnya. Cobalah perdalami sikap suami dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Lakukanlah komunikasi dari hati-ke hati. Pendekatan tersebut menjadi sangat penting, karena Anda dan suami tidak mengenal secara mendalam sebelum pernikahan. Namun, jika pendekatan-pendekatan telah dilakukan dan suami masih tetap sama, selanjutnya mintalah bantuan pihak ketiga sebagai mediator menyelesaikan permasalahan ibu seperti kedua orang tua.
Adapun permasalahan yang berkaitan dengan keluarga, maka semaksimal mungkin dapat tertutup rapat apabila merupakan rahasia yang tidak pantas di terangkan, sebagai contoh perihal kekerasan atau hal lain yang justru akan membuka aib yang lebih besar.
Selanjutnya perbanyaklah doa untuk kebaikan suami, tentunya dengan mengintropeksi diri kita sendiri, karena pasangan yang baik untuk yang baik dan sebaliknya. Usaha batin lain yang lebih praktis adalah dengan pendekatan Ruqah Diri, yaitu dengan memohon pertolongan Alla swt agar suami ibu dibukakan hatinya dan diberi petunjuk serta kelembutan hati. Setelah mendapatkan apa yang telah dicita-citakan yaitu menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah, maka teruslah pertahankan keadaan tersebut dengan memperbanyak ibadah dan beramal baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar