Assalamu’alaikum
wr wb
Ustad Massar yang dirahmati Allah
swt. Saya pria berusia 48 tahun dan sudah menikah untuk kedua kalinya. Adapun
profesi saya adalah Senior Marketing Officer di sebuah bank swasta. Usia
pernikahan kami kini sudah mencapai 10 tahun. Kami dikaruniai anak berumur 9
tahun yang masih duduk di sekolah dasar. Berikut surat ini juga saya sertakan
foto saya, istri dan anak.
Masalah yang saya hadapi adalah sudah
4 bulan ini saya mengetahui perselingkuhan istri saya dengan atasan sekantornya
sendiri. Saya merasa sakit hati. Saya merasa rumah tangga yang kedua ini tidak
berjalan mulus sebagaimana pernikahan saya yang pertama. Saya tidak menduga
dengan apa yang istri saya lakukan. Apa yang harus saya lakukan? Apakah kami
harus bercerai? Saya kasihan dengan anak jika kami berpisah.
Wassalamu’alaikum
wr wb
Beny Mursyidan, Bogor, Jawa Barat
Wa’alaikumussalam
wr wb
Saudara Beny, sebagai pemimpin rumah
tangga, banyak hal yang harus Anda komunikasikan dengan istri Anda. Pernikahan
Anda sudah menyimpang dari koridor. Dari foto yang saya analisa, nampaknya
bukan hanya istri Anda yang selingkuh, tapi juga Anda. Siapa yang memulai
terlebih dahulu? Apa penyebabnya?
Kalau Anda yang memulai selingkuh
lebih dulu, apakah istri Anda sudah mengetahui sebelumnya sehingga itu yang memicu
istri Anda untuk selingkuh? Kalau istri Anda yang selingkuh lebih dulu, kenapa
tidak Anda antisipasi sebelumnya dengan berintrospeksi dan berbicara dari hati
ke hati?
Baiklah, saya tidak akan menyalahkan
Anda atau istri dan mencoba untuk netral. Apa yang sudah terjadi tak akan bisa
terulang kembali. Waktu tak bisa diputar. Langkah pertama yang mesti Anda
lakukan adalah membicarakan ihwal perselingkuhan ini dengan jujur kepada istri.
Kalian bisa curhat, berbagi rasa, dengan bahasa santun dan kepala dingin,
jangan emosi. Tanyakan pada istri, apa kekurangan dan kesalahan Anda, begitu
juga sebaliknya. Saya tidak akan menganjurkan langkah ini jika yang selingkuh
hanya istri Anda.
Kemudian yang kedua, katakan kepada
istri bahwa Anda sangat mencintainya dan menginginkan agar rumah tangga tetap
utuh. Bukankah alasan kalian menikah pada awalnya atas dasar cinta? Sudah tidak
waktunya lagi bagi Anda dan istri bermain-main dan menganggap sepele urusan rumah tangga. Ingat umur, ingat
akhirat, dan ingat juga masa depan anak kalian. Bercerai tentu berdampak pada
kejiwaan anak karena harus menjalani kehidupan dengan single parent.
Yang terakhir, Anda dan istri segera datang ke majelis kami demi keutuhan rumah
tangga kalian. Salam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar