Kamis, 18 April 2013

Menyadarkan Istri Selingkuh




Assalamu’alaikum wr wb
Ustad Massar yang dirahmati Allah swt. Saya pria berusia 48 tahun dan sudah menikah untuk kedua kalinya. Adapun profesi saya adalah Senior Marketing Officer di sebuah bank swasta. Usia pernikahan kami kini sudah mencapai 10 tahun. Kami dikaruniai anak berumur 9 tahun yang masih duduk di sekolah dasar. Berikut surat ini juga saya sertakan foto saya, istri dan anak.
Masalah yang saya hadapi adalah sudah 4 bulan ini saya mengetahui perselingkuhan istri saya dengan atasan sekantornya sendiri. Saya merasa sakit hati. Saya merasa rumah tangga yang kedua ini tidak berjalan mulus sebagaimana pernikahan saya yang pertama. Saya tidak menduga dengan apa yang istri saya lakukan. Apa yang harus saya lakukan? Apakah kami harus bercerai? Saya kasihan dengan anak jika kami berpisah.
Wassalamu’alaikum wr wb
Beny Mursyidan, Bogor, Jawa Barat
Wa’alaikumussalam wr wb
Saudara Beny, sebagai pemimpin rumah tangga, banyak hal yang harus Anda komunikasikan dengan istri Anda. Pernikahan Anda sudah menyimpang dari koridor. Dari foto yang saya analisa, nampaknya bukan hanya istri Anda yang selingkuh, tapi juga Anda. Siapa yang memulai terlebih dahulu? Apa penyebabnya?
Kalau Anda yang memulai selingkuh lebih dulu, apakah istri Anda sudah mengetahui sebelumnya sehingga itu yang memicu istri Anda untuk selingkuh? Kalau istri Anda yang selingkuh lebih dulu, kenapa tidak Anda antisipasi sebelumnya dengan berintrospeksi dan berbicara dari hati ke hati?
Baiklah, saya tidak akan menyalahkan Anda atau istri dan mencoba untuk netral. Apa yang sudah terjadi tak akan bisa terulang kembali. Waktu tak bisa diputar. Langkah pertama yang mesti Anda lakukan adalah membicarakan ihwal perselingkuhan ini dengan jujur kepada istri. Kalian bisa curhat, berbagi rasa, dengan bahasa santun dan kepala dingin, jangan emosi. Tanyakan pada istri, apa kekurangan dan kesalahan Anda, begitu juga sebaliknya. Saya tidak akan menganjurkan langkah ini jika yang selingkuh hanya istri Anda.
Kemudian yang kedua, katakan kepada istri bahwa Anda sangat mencintainya dan menginginkan agar rumah tangga tetap utuh. Bukankah alasan kalian menikah pada awalnya atas dasar cinta? Sudah tidak waktunya lagi bagi Anda dan istri bermain-main dan menganggap sepele  urusan rumah tangga. Ingat umur, ingat akhirat, dan ingat juga masa depan anak kalian. Bercerai tentu berdampak pada kejiwaan anak karena harus menjalani kehidupan dengan single parent. Yang terakhir, Anda dan istri segera datang ke majelis kami demi keutuhan rumah tangga kalian. Salam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar