Minggu, 12 Oktober 2014

MENCINTAI PEREMPUAN LAIN



Assalamu’alaikum wr wb
Ustad Massar yang saya hormati. Jauh sebelum menikah, saya menyukai seorang perempuan yang merupakan teman sekantor. Saya benar-benar jatuh cinta padanya saat sehari menjelang hari pernikahan saya. Awalnya, saya mengira perasaan ini hanya sebatas rasa suka biasa saja. Tapi tenyata lebih dari itu. Hingga kini, saya sering terbayang-bayang dan merindukannya. Setiap kali perasaan itu datang, saya hanya bisa mencurahkan perasaan pada buku harian (diary). 
Meskipun sudah menikah hampir 7 bulan lamanya, saya masih belum bisa melupakannya. Saya bingung! Sudah berbagai cara saya lakukan untuk menjauhi dan melupakannya. Tapi rasa ini tak juga hilang. Untungnya, meskipun sekantor, saya dan dia jarang bertemu karena dia di bagian marketing dan sering ke luar. Di sisi lain, saya tak ingin mengkhianati istri saya. Apa yang harus saya lakukan Ustad?
Andhika Febrian, Makassar
Wa’alaikumussalam wr wb
Saudara Andhika yang baik, yang namanya sensasi dan perasaan berbunga-bunga memang bisa terasa bagai sebuah kenyataan yang membius. Cinta memang tak kan selesai dibahas sampai akhir zaman. Kalau perasaan itu Anda biarkan berlarut-larut dengan kontinuitas sedemikian rupa, akan terjadi kekacauan fikiran, mental, dan tentunya berdampak bagi rumah tangga yang baru Anda bina.
Saat Anda memutuskan untuk menikahi gadis yang kini menjadi istri Anda, tentunya saat itu Anda dalam kesadaran penuh, tanpa paksaan, dan dengan alasan fundamental.  Oleh karena itu, komitmen dan kesetiaan Anda yang terucap saat ijab kabul (akad nikah) itulah yang sepatutnya Anda pertahankan. Anda adalah pria dewasa. Semakin Anda memanjakan perasaan dan menikmati sensasi jatuh cinta, maka masalah ini tidak akan selesai dengan benar.
Jika alasan Anda jatuh cinta karena paras yang cantik, yakinlah, cantik itu relatif dan berada pada level kualitas yang tak kan selesai jika diukur dengan indra penglihatan. Anda bisa saja terjebak pada rasa suka sesaat yang tidak benar-benar dilandasi cinta dan berujung pada kebosanan. Membina rumah tangga yang harmonis akan lebih mudah terlaksana jika dilandasi spirit cinta yang disandarkan pada kasih sayang dan nilai-nilai agama.
Oleh karena itu, berlaku secara adil dan penuh tanggung jawab dengan mencurahkan perasaan sepenuhnya pada istri Anda. Niatkan pernikahan itu sebagai ibadah untuk membina keluarga sakinah, mawaddah wa rohmah dan melahirkan keturunan yang saleh secara individu maupun sosial. Jika Anda masih sulit melawan perasaan Anda, segera menghubungi kami untuk menjalani terapi Ruqyah Diri. Dengan begitu, Anda akan mengerti bahwa cinta yang sebenarnya memiliki ialah jika dipertemukan kembali antara pecinta dengan yang dicintai di akhirat nanti dalam keadaan yang lebih baik, termasuk cinta kepada Allah, Nabi, dan sesama Mukmin. Tentu saja, cinta tersebut karena Allah, bukan karena nafsu. Salam sukses.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar