Assalamualaikum Wr.Wb.
Pak ustadz, sebelumnya tolong dirahasiakan
identitas saya ini karena takut mengundang fitnah. Saya seorang wanita bersuami
yang pernah khilaf, tega menghianati suami saya dengan berselingkuh bersama
suami orang. Suamiku merupakan pengusaha elektronik yang sedang sibuk mengurusi
cabang barunya di kota S. Tanpa disadarinya, segala kesibukannya itu telah
menyita waktu dan perhatian untuk keluarga hingga membuatku jenuh di rumah.
Singkat cerita, aku bertemu dengan teman lama dan akhirnya kami selingkuh dari
pasangan kami masing-masing. Tapi semakin lama saya jalani, semakin membuat
saya merasa berdosa. Saya bingung ustadz, saya ingin mengakhiri hubungan ini tapi terasa sangat sulit.
Tolong saya ustadz.
08138399XXXX
Waalaikumussalam Wr.Wb.
Ibu, sebelumnya perlu ibu ketahui
bahwa melakukan perselingkuhan termasuk dosa besar yang hanya dapat diampuni
dengan secepatnya bertaubat kepada Allah Swt. Sebagaimana dalam al Qur’an
dikatakan “dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta
Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali
dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang
demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). (yakni) akan
dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab
itu, dalam Keadaan terhina.kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan
mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan
kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Apabila perselingkuhan yang ibu
lakukan disertai dengan zina sebagaimana ditentukan dalam al Qur’an di atas,
maka ibu telah melakukan zina muhsan yang memiliki konsekuensi hukuman yang
berat. Dari hadis di atas, semoga ibu dapat mengambil pelajaran agar tidak
melakukan kembali dosa tersebut dan secepatnya melaksanakan taubatan nasuha.
Yakinlah bahwa Allah Swt adalah Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang. Oleh karena
itu semua, laksanakanlah Ruqyah Pembersihan Diri sebagai langkah awal
memantapkan hati dan membersihkannya dari kotoran nafsu dan penyakit hati lainnya
yang selama ini bersemayam dalam hati ibu. Selanjutnya jiwa yang telah mantap
tersebut tinggal mengisinya dengan hikmah-hikmah kebijaksanaan yang bersumber
dari syari’at.
Apabila upaya-upaya pertaubatan dan
perbaikan diri telah dilakukan, saatnya ibu berterus terang kepada suami,
sebagaimana dalam pepatah disebutkan “Katakanlah kebenaran walaupun itu pahit”.
Mintalah pemaafan darinya dan yakinkanlah bahwa ibu tidak akan mengulangi
perbuatan tersebut. Berilah penjelasan secara jelas dan gamblang supaya tidak
terjadi kesalah fahaman yang dapat berdampak negatif bagi hubungan ibu dan
suami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar